Saturday, April 29, 2017

Jum'at di Merduati


Nada rindu digembar-gemborkan dari pesawat radio menjelang tengah hari berbarengan suara gerinda melicinkan sisa-sisa potongan besi di bengkel las seberang jalan.

Jalan Pang Lateh menyisakan asap knalpot ketergesaan dari pengendara pulang kantor, siang Jum'at yang terik itu mengganggu bobo siang sekawanan kambing kota.

Aspal melunak seperti sikap warga dalam Pilkada. Yang dikirimkan angin dari Lampaseh masih berupa bau lumpur sungai hingga nanti, Walikota terpilih bosan mengurus kota dan beralih membisniskan semua urusan demi PAD.

Dari warung kopi Sanusi, warga bubar saat sayap azan menerbangkan lantunannya ke penjuru langit. Merduati sedikit lebih puitis dari yang dibayangkan penyair masalalu yang gagal memuisikan apa pun tentang urbanisme.

Warung nasi diantri pekerja untuk makan siang mengingatkanku pada resep masakan ibu. Rindu itu sekejam aroma bileh teupayeh dan teurasi on bi.

Jumat di Merduati
Tak ada yang boleh disimbolisasi.

Minggu terakhir April. 2017


Monday, February 13, 2017

Menyeberang Pagi di Banda Aceh

Dalam seegelas kopi, kulayarkan puisi
Tanpa diaduk lansung kutenggak
Di depan seorang penyair lokal
Yang merokok tak putus-putus
Kuhembus angin dari kota
Hingga, puisi menyeberang
Mampir ke siang
Ambil bekal
Berangkat ke senja

Rokok habis!



Januari 2017


Saturday, January 21, 2017

BAB akhir pekan

Minggu siang, hari rebah perlahan ke pelukan sore dengan gembira. Lampuuk melambaikan tangan selamat datang walau tetap mengutip uang masuk tiga ribu rupiah perkepala. Pasir berterbangan, matahari menempel di langit sampai-sampai sepasang anjing harus berteduh di bawah rimbun pandan duri. Sore mengerang tanpa ampun. Lampuuk dihadiri ribuan orang dengan kepala berat. Rekreasi ditunaikan setelah sepekan tersesat dalam ruang-ruang penuh kertas dan map kantor.

Di langit-langit kamar kecil, pembalut wanita disembunyikan diantara kayu dan seng karatan. Pesing tiada tara menggugah saya untuk menulis puisi kecil-kecilan sembari buang air besar.

Di luar, debur ombak meneriaki wisatawan pada akhir pekan itu, membuat konsentrasiku pecah. Pintu diketuk sepertinya durasi BAB sudah habis. Uang jasa BAB kubayar, seorang bocah perempuan menunjuk ke arah celengan. Dua ribu rupiah ke sana dibenam.

Dari Banda Aceh, sunyi dikirimkan via knalpot motor dari acara peluncuran antologi bersama di sebuah warung kopi. Asap hitam diterbangkan bak puisi pekat tak tertafsir. Kami pulang geleng-geleng kepala. That geupap!.

2016.Banda Aceh


Monday, November 7, 2016

Mie Ayam Mas Marno

Aroma bakso di gerobaknya
Menyengat seperti bau gemerlap urban kutaraja yang menusuk dusun-dusun. Bumbu instant menyemerbak hingga ke tepi kota. Pelan dan tak kuasa dihambat.

Meskipun begitu, Kutaraja hanya mewangi ketika selendang Walikota dikibaskan secara politis. Itu pun penuh perhitungan laba-rugi. Sebab, dari kolong-kolong kekuasaannya, bau tak waras memenuhi kota saat kekuasaan sedang digilai semua politikus.

Baunya menguap seperti kerap menyeruak dari bawah jembatan Krueng Neng Lamteumen Barat, tempat Marno menggelar lapak.


Saturday, October 1, 2016

Meureudu-Banda Aceh dalam selembar tiket minibus



Jika bernafsu sekali mendokumentasi perjalanan dinas dalam beberapa bait puisi, mintalah selembar tiket kosong. Bahkan tak hanya puisi, ongkos Meureudu-Banda Aceh yang hanya lima puluhan ribu bisa dihiperbolis hingga ke angka tiga ratusan ribu. Semua serba mungkin. Perjalanan dinas dengan ongkos-ongkosnya, dinanti-nanti seperti menunggu untuk segera rehat di Saree. Setelah  Trienggadeng, Panteraja, Paru, Lueng Putu hingga Laweueng susah payah dilewati.

Di tengah terik memanggang, air kelapa muda dekat peukan Seulimum tertunda ditenggak. Sebab aroma Banda Aceh mulai tercium meski sedikit amis.

Tiket kosong dalam dompet yang terhimpit uang jajan, sesak nafasnya. Gaji seorang guru bakti rata-rata sarat beban. Utang rokok, bon kopi dan pinjaman dari teman kian memberatkan. Namun, demi perjalanan dinas, semua ditunda bayar.







Menolak Jawai