Saturday, January 21, 2017

BAB akhir pekan

Minggu siang, hari rebah perlahan ke pelukan sore dengan gembira. Lampuuk melambaikan tangan selamat datang walau tetap mengutip uang masuk tiga ribu rupiah perkepala. Pasir berterbangan,
matahari menempel di langit sampai-sampai sepasang anjing harus berteduh di bawah rimbun pandan duri. Sore mengerang tanpa ampun. Lampuuk dihadiri ribuan orang dengan kepala berat. Rekreasi ditunaikan setelah sepekan tersesat dalam ruang-ruang penuh kertas dan map kantor.

Di langit-langit kamar kecil, pembalut wanita disembunyikan diantara kayu dan seng karatan. Pesing tiada tara menggugah saya untuk menulis puisi kecil-kecilan sembari buang air besar.

Di luar, debur ombak meneriaki wisatawan pada akhir pekan itu, membuat konsentrasiku pecah. Pintu diketuk sepertinya durasi BAB sudah habis. Uang jasa BAB kubayar, seorang bocah perempuan menunjuk ke arah celengan. Dua ribu rupiah ke sana dibenam.

Dari Banda Aceh, sunyi dikirimkan via knalpot motor dari acara peluncuran antologi bersama di sebuah warung kopi. Asap hitam diterbangkan bak puisi pekat tak tertafsir. Kami pulang geleng-geleng kepala. That geupap!.

2016.Banda Aceh