Friday, June 16, 2017

Khatib Mukim Kuta Simpang


Tingkah angin dari kuala belum berubah. Hobinya masih menyentak-nyentak nyiur sepanjang pantai Manohara. Babah kuala menganga sepanjang waktu keluar masuk boat nelayan. Tak ada sunset yang lebih indah selain duduk dengan segelas kopi kemasan di bineh krueng Teupin Pukat saat hari rebah ke barat.

Raju kecil, Syamson dan teman-teman terasa masih nyemplung ke sungai dari atas boat saat hari menjelang magrib.

Orang-orang Tijien tak lagi bersepeda melampiaskan hasrat ke kide Meureudu untuk sekedar beli bawang atau ngopi di warkop Langkah Baru. Sepeda motor berjejal di kawasan Cot Naleueng mengimbangi bendera partai di sepanjang jalan. Sawah-sawah di depan Mesjid Japakeh mukim Kuta Simpang, tak lagi tenang. Kuku pembangunan mulai menguruk lahan untuk ruko dan perumahan, Hingga kelak mencapai Cot Panah dan bahkan meringkus Lueng Bimba dari ketenangannya.

Langkah Teungku Khatib Hanafiah sayup terdengar saban Jum'at hingga azan kedua di mesjid-mesjid terdekat. Meski Khutbahnya yang ketus, tas berisi kitab, sandal tua berdebu, telah lama mengarsip dalam rak ingatan kami di mukim Kuta Simpang. Sikapnya yang tidak dibuat-buat menjadi penanda mewahnya cinta kasih sesama umat.

Yang kuingat, dari sunyi ke sunyi, tgk Khatib menyeret terompahnya dari Lueng Raya dengan susah payah. Hingga, sepanjang jalan bekas rel kereta api, debu beterbangan bersama istighfar yang ia desiskan sambil mengayun langkah. Di Bale Seumet ia sering rehat. Membuka-buka kitab, atau shalat sunat. Di lantai kayu, keningnya meninggalkan bekas cahaya yang mampu menerangi sebagian Pante Beureune.

Akhir 2016