Wednesday, January 8, 2014

kuli bangunan

dari atap lantai dua
apakah nasib bisa diterka dengan benar?
jika matahari seolah-olah tanpa belas kasihan

dari gedung ke gedung di kota ini
kita tak pernah menabung peluh
untuk melicinkan masadepan
karena keadaan menelantarkan kita
dalam kalender-kalender tidak resmi
tanpa upah bulanan selayak pegawai

tapi, pada adukan semen
kita menafsirkan warna-warna kelabu
sebagai bentuk paling primitif
dari keterbatasan kita membaca harapan

di kedalaman drainase kota
kita lebarkan ingatan tentang alasan
bahwa anak istri mesti tetap makan
walau upah pas-pasan.

5 februari 2011
lamteumen