Tuesday, July 18, 2017

Cut Aya Sofia, Lukisan dan Dua Kemungkinan itu




Menghadapi kamera saya di sebuah malam menjelang pementasan teater di Taman Budaya Aceh, Cut Aya Sofia begitu percaya diri dan sumringah. Ada dua kemungkinan beliau percaya diri saat itu. Dan dari dua kemungkinan itu, saya berniat akan menjelaskan satu kemungkinan saja. Dan bila memungkinkan, akan saya jelaskan keduanya.

1. Karena tiap hasil jepretan saya mengenai beliau, hasilnya pasti tidak begitu menyenangkan. Sebab, selain tanpa ilmu dasar, kamera tidak lagi menjadi barang mewah. Tiap HP melekat itu barang. Istilah TNI; manunggal. Biar lebih puitis lagi; bersenyawa. Saya rasa tiap jiwa yang punya potensi kesunyian di atas rata-rata, bersenyawa akan lebih cocok untuk hal di atas. Untuk istilah manunggal versi TNI,

Friday, June 16, 2017

Khatib Mukim Kuta Simpang


Tingkah angin dari kuala belum berubah. Hobinya masih menyentak-nyentak nyiur sepanjang pantai Manohara. Babah kuala menganga sepanjang waktu keluar masuk boat nelayan. Tak ada sunset yang lebih indah selain duduk dengan segelas kopi kemasan di bineh krueng Teupin Pukat saat hari rebah ke barat.

Raju kecil, Syamson dan teman-teman terasa masih nyemplung ke sungai dari atas boat saat hari menjelang magrib.

Saturday, April 29, 2017

Jum'at di Merduati


Nada rindu digembar-gemborkan dari pesawat radio menjelang tengah hari berbarengan suara gerinda melicinkan sisa-sisa potongan besi di bengkel las seberang jalan.

Monday, February 13, 2017

Menyeberang Pagi di Banda Aceh

Dalam seegelas kopi, kulayarkan puisi
Tanpa diaduk lansung kutenggak

Saturday, January 21, 2017

BAB akhir pekan

Minggu siang, hari rebah perlahan ke pelukan sore dengan gembira. Lampuuk melambaikan tangan selamat datang walau tetap mengutip uang masuk tiga ribu rupiah perkepala. Pasir berterbangan,