senirupa

Monday, February 13, 2017

Menyeberang Pagi di Banda Aceh

Dalam seegelas kopi, kulayarkan puisi
Tanpa diaduk lansung kutenggak

Monday, September 19, 2016

Angin Malam di Lueng Bata

Senja diantar ke tempatnya hari itu, persis saat seorang ketua sebuah partai politik memarahi sopir pick-up. Karena menjadikan haĺaman kantor sebagai parkiran. Urusan sepele akan terus diselesaikan dengan energi ganda. Padahal, Azan Magrib dan lampu jalan berlomba-lomba menguasai Lueng Bata dalam gelap yang masih putik itu.

Warung nasi riuh dengan sendok dan piring beradu. Seperti ciuman sepasang kekasih yang baru jadian kemarin sore. Sehingga, Secangkir kopi yang diseduh oleh Buruh bangunan, tetap pahit meski berton-ton gula dilarutkan.

Angin dari Blang Cut membentur tembok ruko sepanjang jalan Tgk Imum Lueng Bata dengan debu-debu tak bertenaga. Bendera partai nasional yang gerah dengan asap kendaraan, mulai lesu saat azan Isya bersiap-siap hendak dikumandangkan. Seorang kader partai berorasi di depan tukang las terali tentang visi partai, sambil garuk pantat. Mulutnya yang dibuka lebar-lebar saat berseru "partai Anak bangsa, wahai saudaraku!", Ibarat mulut kota memuntahkan alat peraga kampanye politik di perbatasan. Spanduk ucapan selamat lebaran, baliho dukungan dan poster-poster, menyambut penumpang L300 dengan gairah nakal.  Terminal minibus tak henti-henti melumat kendaraan yang datang dari luar kota.

Wangi bu gureng malam itu tak sempat dinikmati seorang calon gubernur sebab keburu pergi. Panggilan dewan pimpinan pusat partai di Jakarta, lebih utama daripada makan malam.

Lueng Bata hingga ke pagi besoknya belum sempat kupuisikan dengan hebat. Karena, kata demi kata pergi bergabung ke dalam baris kalimat penguat dalam janji-janji Pilkada. Braat!!




Menolak Jawai

Thursday, August 4, 2016

Nuga Art Exhibition

Nuga Art & Exhibition yang digelar di Bivak Emperom pada Minggu 31 Juli- 2 Agustus 2016, bisa diikuti oleh siapa pun non perupa atau non seniman. Terbuka untuk umum tanpa bea masuk.

Setelah workshop bersama selesai, karya ini akan dipamerkan di Bivak Emperom pada 3 Agustus 2016. pameran  akan berlansung di area Bivak Emperom. Baik indoor dan outdoor. Tidak ada karya buruk di sini. Apresiasi sesama perupa berlansung dalam suasana 'hari raya visual'.

Medium Nuga (kayu sisa) diakrabi perupa dengan cat dan pahat. Melukis di atas Nuga masih mendominasi. Satu dua yang menggunakan pendekatan seni kriya. Apa pun itu, Nuga setelah mendapat sentuhan tangan perupa, menjelma karya seni. Komunitas dan peserta personal larut dalam dialog subjek-objek. Dialog ini seakan merekam jejak senirupa Aceh seperti kata Tu-ngang dalam pidato pembuka workshop, "belum bisa bisa keluar dari jebakan warna dasar".

Saya sendiri tidak melihat warna dasar sebagai simbol terisolasinya gerakan perupa Aceh 5 tahun terakhir. Malah, penggunaan warna dasar mewakili kejujuran ungkap, Otentik dan belum terkontaminasi.

Peniadaan tema dalam workshop ini adalah usaha membangun kemerdekaan ekspresi perupa dalam menuangkan ide dan ungkapan. Sebab, peserta punya modal tema sendiri.  Karya bercorak dekoratif bersanding dengan gaya kartun dan mural instalatif. Ragam corak tersebut berkontribusi meluaskan wilayah visual Aceh, yang selama ini tergusur oleh lahan politik lokal yang menggiurkan.

Di balik itu semua, dan yang paling penting dicatat adalah, berkumpulnya masyarakat dan perupa di Bivak Emperom. Artinya, ekspresi bukan lagi monopoli seniman. Masyarakat disediakan wadah penampung ungkapan atas apa yang dirasa, dilihat dan dialami. Soal ekspresi sarat kutukan terhadap pemerintah misalnya, itu urusan nomor dua. Daripada kita terpola berekspresi 5 tahun sekali dalam bilik suara untuk memilih caleg, menuangkan dalam karya seni, jauh lebih bermartabat.



Menolak Jawai

Monday, June 13, 2016

Toa Tua syiar pura-pura



Malam jadi tak jadi melangkah ke pagi. Jam 3 dini hari merangkak tak bertenaga menuju sahur. Jarum jam pelan sekali berpindah. Seperti orang tak makan sebulan. Bulan Juni, Ramadan hampir 10 hari melatih siapa saja yang mau belajar di madrasahnya.

Tengah malam, di toa meunasah, Quran tak stabil dilantunkan. Kadang mengalun lembut mengantar kantuk, kadang juga diteriakkan seperti marah yang ditahan 11 bulan sebelumnya.  Ayat demi ayat dibacakan bergiliran dan bahkan terdengar berebutan Seperti rebutan mimbar mesjid yang beberapa waktu lalu santer diberitakan.

Tadarus berakhir, ditambah nyanyi-nyanyi pesan moral secara kolosal dengan nada sumbang. Syi'ar moral larut dan berakhir dalam udara penuh carbon dioksida. Di kamar, orang-orang meresapi pesan dalam siksa ngantuk dan tidur pura-pura.

Tuhan tak tidur. Umatnya di bumi belum lagi pulas, menunggu alarm sahur yang diteriakkan kembali melalui toa tepat jam 4 pagi.

Allahu Rabbi.


Wednesday, June 1, 2016

Cara penyair tidur

Reza dan teman-temannya


(Cerita Idrus tidur.
Reza, Blang Oi.22 Oktober 2008)

Begitu kau lelap, aku berjingkat memanjat tumpukan bukumu. Barangkali kau pura-pura tidur. Maka raut wajahku seperti detektif picis di atas tumpuk buku itu. Tiba-tiba angin di luar menyergap menggerayangi suasana sepi menjadi tragis tak terkira. Tapi suara dengkurmu sepertinya mengisahkan resah. Aku telah sampai di puncak buku-bukumu, catatan-catatanmu. Lalu, bersama gemeretak atap rumah, bersama jam dinding yang malas berdetak, kepalaku tenggelam. mataku benam. Pada sebuah buku catatan, ada puisi di lembar pertama. Ada puisi di lembar kedua, ada puisi di lembar kelima. Sedang sebelumnya, puisi tetap saja. Lembar seterusnya tulisanmu adalah puisi aku kira. Seterusnya dan seterusnya. Puisi..puisi..ah puisi masih saja.

Maka setelah tamat dengan puisimu, aku beranjak turun dari dari tumpukan bukumu dengan langkah gemerisik. Di luar angin masih berkisah tentang badai dan petaka. Aku sampai di bawah.

Kudapati tetap saja lelap dengan nafas menggugah. Kau selimuti dadamu dengan kain sarung murahan bermotif petak-petak yang buruk rupa. Ah.. gaya tidurmu tak seindah puisi-puisimu di buku catatan itu. Entah bagaimana gaya tidurku nanti. Aku tidur di sampingmu saja. Dan malaikat melongok dari balik tirai jendela. Matikan lampu. Istirahatkankan nafsu. Aku imbangi dengkurmu dengan nafas kasarku.

REZA MUSTAFA.