Tuesday, December 31, 2013

Bandit Lokal

ulee aleh kiban-kiban, pikeran cit tan na

jangan berharap akan menemukan seorang bandit lokal berpenampilan layaknya Koboi yang anda temui di film-film hollywood zaman dahulu. bandit lokal sama dengan kita dalam berkeseharian. merokok, beol, pusing, tertekan hingga mengalami patah hati bersebab banyak hal. tak ada keliaran dalam sikap dan tindak tanduknya. Bandit lokal tumbuh subur menjelang pemilu 2014.

Sejarah bandit hingga tulisan ini dipublis belum ada arsip lengkap dan resmi yang mengupas secara mendalam. Kecuali selentingan berita situs web lokal yang mengelu-elukan kemunculan beberapa bandit. Namun demikian, dari kabar yang beredar di warung kopi, kemunculan bandit lokal ternyata serentak di berbagai sektor pekerjaan. Dari yang cilet-cilet hingga yang serius-serius. Dari mantan Kadus hingga Redaktur surat kabar. Semua bermuara pada satu lubang; CaLeg. 

Bandit-bandit kecil yang tak kuat dan tanpa modal untuk nyaleg, biasanya cukup puas menjadi penyokong Bandit besar. Didanai dan difasilitasi untuk tujuan bersama; untung politik. Okelah. Agar berimbang dan tak sepenuhnya subjektif, saya berani taruhan tak semua CaLeg itu bandit. Tak sepenuhnya Bandit itu Caleg. Ada bandit cukup puas menjadi bandit murni. Menggawangi beberapa perusahaan lalu abai sekitar. Jenis ini cenderung diam di belakang layar namun memiliki pengaruh hingga ke kaki kekuasaan dengan bantuan kaki tangan kuasa. 

Saya tidak percaya dengan ini. Walau di warung kopi hal ini diperbincangkan sampai mulut berbuih. Ah sudahlah, bandit lokal yang anda kenal bisa saja kerabat, istri, mantan pawang hujan, tukang jilat, peliput berita hingga mantan kepala sekolah. Tahun politik 2014 tetap menarik menonton pertarungan sesama bandit dan penyokongnya. Jangan sentimen pada kinerja kampanye mereka. Bandit lokal tetap saudara kita yang akan mengubah peta perekonomian secara masif bagi kaumnya. Ini sudah pasti. Dan selama indonesia masih berdemokrasi secara kebablasan. Pusing!

kawebace. 31122013