senirupa

Monday, January 18, 2016

Dji Sam Soe terakhir di Banda Aceh

Mimpi di kota madani



Awal tahun begini, puisi ditangguhkan hingga usia bulan betul-betul dewasa. Untuk memuisikan apa pun, penyair sekelas teman saya itu jarang menggunakan kata "ah", sebagai simbolisasi apatis atau kesan ketakpedulian. Misalnya, berkata "ah" pada seorang ibu yang memimpin kota dengan energi berlipat ganda, baginya keliru. Ibu menyuruh diam di rumah tatkala tahun berganti malamnya, ia taati sepenuhnya. Hedonisme lebih buruk dari korupsi. Juga tak sebanding dengan kasus mesum dalam hal busuknya.

Ia percaya benar, di kotanya, bising masih terlalu putik dibandingkan Jakarta dengan pengendaranya yang cerewet. Untuk itu, memuisikan Banda Aceh yang tenteram madani, lebih berpeluang didengar ketimbang menyampahi area balai kota dengan diksi-diksi yang bikin sakit telinga walikota.

Ia tak tega jika puisi mengkhutbahi orang untuk kembali menjadi diri sendiri atau, "puisi yang mendorong orang mencintai Mario Teguh dan tokoh ESQ" ujarnya.

Di tengah kesibukannya 'membedah' dji sam soe, ia ungkapkan ketaksiapannnya menulis puisi untuk menyindir siapa pun. "Puisi harus mencipta peluang. Karena, dalam setiap kata terdapat satu kunci yang bagi penyair tertentu bisa mendatangkan untung" ujarnya.

Banda Aceh pernah membikinnya mabuk, Pada awal-awal ia belajar memberi petuah pada penguasa melalui puisi. Rezim berganti seperti tahun yang enggan berlama-lama dalam satu kalender.

Di Seutui yang selalu ramai, asap Dji Sam Soe-nya larut dalam udara sore beserta nasihat-nasihat sastrawi untuk penyair muda. Segelas teh tarek dingin dan canai panas tak menggodanya berhenti bicara. Hingga azan Magrib, kota kian riuh. Peunayong, Simpang Surabaya hingga ke  Punge, orang-orang memenuhi warung kopi tanpa perlu buat janji.

"Banda Aceh tak terdefinisi. Mungkin, kopi dan puisi bisa hadir bareng untuk memaknai" ungkapnya mengakhiri.

Awal 2016